Meski prestasi sepak bola Indonesia di kancah internasional tidak membanggakan, tetapi bola sepak jahit produk Kabupaten Majalengka terkenal di luar negeri, meski di dalam negeri belum diminati.
Triple S, nama bola sepak jahit produk Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, lebih memasar ke manca negara seperti Amerika, Eropa, Korea, Jepang, dan Singapura, kata Yayan Suryana, staf pemasaran Triple S, Jumat, di Bandung.
Dikatakanya, Triple S, adalah satu-satunya perusahaan bola sepak di Indonesia yang mendapat pengakuan Internasional ISO 9001-2000 untuk sistem kualitas manajemen. Bahkan telah mendapat sertifikat khusus dari masyarakat Eropa, katanya.
Ia mengatakan, setiap tahun bola bernama Triple S itu diekspor sebanyak 1 juta bola ke beberapa negara seperti AS, Eropa, Korea dan Jepang.
Menurut Yayan, Triple S banyak diminati di luar negeri karena kualitasnya sama dengan kualitas bola-bola sepak yang dihasilkan negara lain.
Sedangkan untuk dalam negeri, kata Yayan, Triple S memang kurang dikenal. Bahkan nama bola Triple S masih sangat asing bagi pecandu bola di dalam negeri.
Hal itu terlihat dari para pengunjung pameran Hari Koperasi yang berlangsung di Gasibu Bandung, Jumat. "Nama Triple S masih asing di telinga mereka. Produk-produk asal luar negeri lebih mereka percayai", katanya.
Namun demikian, kata staf pemasaran Triple S itu, memang hal itu wajar karena sejak bola sepak tersebut diproduksi tahun 1994 belum pernah dipasarkan di dalam negeri.
Untuk itu sementara ini, katanya, Triple S hanya berani dipasarkan di luar negeri sebab di dalam negeri dikuasai produk-produk luar. "Namun mulai tahun ini kita akan pasarkan di dalam negeri", katanya.
Ketika disinggung mengapa tidak ikut ambil bagian dalam kejuaraan sepak bola tanah air sebagai salah satu cara mempromosikan agar masyarakat percaya, Yayan mengatakan hal tersebut sangat sulit karena membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Dikatakan, untuk menyaingi produk lain seperti Adidas, Nike atau lainnya, pihak perusahaan tidak memiliki dana yang cukup. "Mereka kan mensponsori liga Indonesia,tetapi kita juga tetap mensponsori beberapa pertandingan seperti kejuaraan Pertamina" katanya.
Mengenai jumlah tenaga kerja pengrajin bolasepak tersebut, ia mengatakan sampai saat ini ada 2000 pengerajin yang menjahit bola sepak, dan sebanyak 200 karyawan yang bekerja di pabrik.
Selain di Majalengka, ternyata bola sepak ini juga menyerap beberapa tenaga kerja di Kabupaten Cirebon dan Sukabumi untuk menjahit bola sepak tersebut.
Yayan menyatakan optimis Triple S bisa merebut pasar dalam negeri, setelah pihaknya memasarkan produksinya di dalam negeri.
Menurut dia keikut sertaannya dalam pameran Hari Koperasi ke 56 yang pembukaannya dilakukan Presiden Bambang Susilo Yudhoyono pada peringatan Hari Koperasi tanggal 12 Juli 2005 di Gedung Sate Bandung, adalah salah satu cara untuk memperkenalkan Triple S kepada masyarakat langsung.